03-02-2012 , Jumat Siang
DINAR EMAS
Nisfu (1/2) Dinar - Rp. 1.111.000,-
Dinar - Rp. 2.222.000,-
Dinarayn - Rp. 4.444.000,-
DIRHAM PERAK
Daniq (1/6) Dirham - Rp. 11.067,-
Nisfu (1/2) Dirham - Rp. 33.200,-
Dirham - Rp. 66.400,-
Dirhamayn - Rp. 132.800,-
Khamsa - Rp. 332.000,-
HARGA EMAS PERAK DUNIA
Dinar dan Dirham untuk Rakyat Sulu
Perjuangan Rakyat Sulu untuk mengembalikan kedaulatannya memasuki babak baru. Penegakkan Syariat Islam dilakukan lewat jalan damai.
Ingat organisasi Moro National Liberation Front (MNLF) yang dipimpin oleh Nur Misuari? Perjuangan bersenjata Muslim di Filipina Selatan yang dilakukan MNLF, kita tahu, berakhir dengan diberikannya otonomi khusus bagi mereka, pada 1996, dengan sebutan resmi The Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM). Tapi perdamaian tak sepenuhnya tercapai. Setelah sebelumnya pecah dengan munculnya sayap lain yang lebih konservatif, yakni MILF (Moro Islamic Leberation Front), belakangan mucul faksi "keras", yaitu "Kelompok Abu Sayaf".

Kelompok Abu Sayaf, bergerak secara lebih sporadis, dan kurang mendapat simpati dari Bangsa Moro sendiri. Satu hal yang perlu diketahui adalah sebutan "Bangsa Moro" itu mengacu kepada beberapa pengelompokan Muslim, setidaknya dua yang terbesar, yaitu Bangsa Sug dan Bangsa Mindanao, yang bermukin di sebagian besar P Mindanao. Kini, rakyat Sulu, mayoritas Bangsa Sug, kembali bangkit. Mereka tidak mempercayai kepemimpinan yang ada saat ini.
Semboyan mereka adalah "Bangsa Sug Aku. Muslim Aku, Bukun Aku Filipino", yang secara jelas membedakan diri dari warga Filipina yang beragama Katolik. Bangsa Sug inilah yang mayoritas menjadi penduduk negeri yang lengkapnya bernama Kesultanan Sulu Darul Islam. Meski relatif kecil Kesultanan Sulu yang merupakan negeri kepulauan, memiliki sekitar 3000 pulau kecil-kecil di sebelah utara Kalimantan ini, merupakan negeri yang sebenarnya sepenuhnya berdaulat.

Kesultanan Sulu tidak pernah menjadi bagian dari koloni Spanyol maupun Amerika Serikat, sebagaimana pulau-pulau lain di sebelah utaranya, seperti P. Luzon dan P. Visayas, yang penduduknya pun nyaris secara keseluruhan telah dibaptis menjadi pemeluk Katolik. Secara sepihak ketika Republik Filipina didekolonisasi oleh penjajahnya, AS, pada 1946, Kesultanan Sulu dimasukkan ke dalam wilayah negara baru ini. Itu sebabnya upaya menuntut kedaulatan kembali di kalangan rakyat Sulu terus berlangsung.
"Karenanya kami, Bangsa Sug akan memproklamirkan kedaulatan kami kembali pada 17 November 2010 ini," kata Datu Albi Ahmad Julkarnain, yang kini memimpin gerakan Bangsa Sug ini. Tanggal 17 November adalah tanggal berdirinya Kesultanan Sulu, pada 1405 M, yang dimulai oleh salah satu keturunan Rasul SAW, Sayyid Abu Bakr, yang kemudian menjadi Sultan Sulu yang pertama.
"Kami juga menyadari bahwa perjuangan dengan bersenjata tak menghasilkan apa-apa. Rakyat Sulu kini bersepakat untuk berjuang dengan deplomasi dan hukum. Tak akan ada satu peluru pun yang akan kami tumpahkan," ujar Datu Albi lagi kepada Pak Zaim Saidi dan Pak Abdarahman Rachadi, di Kota Bharu, belum lama ini. Bagi rakyat Sulu, Bangsa Sug, kelompok Nur Misuari yang kini menjalankan pemerintahan daerah otonom Mindanao, bukan lagi dianggap pemimpin mereka. Yang mereka inginkan saat ini adalah kembalinya Kesultanan Sulu, yang dipimpin oleh seorang Sultan, yang menjalankan syariat Islam, sebagaimana berjalan beberapa ratus tahun dulu.
Dapat dibayangkan reaksi Pemerintah Republik Filipina sesudah 17 November 2010 nanti. Untuk itu, Datu Albi berharap adanya dukungan dari kaum Muslim di Indonesia. Yang paling pokok, tentu saja, adalah perhatian dan dukungan politis. Namun demikian, dukungan program kesejahteraan bagi rakyat Sulu pun saat ini sangat penting, untuk menghadapi derasnya program kristenisasi sistematis yang dilakukan pihak berkuasa. Pada umumnya rakyat Sulu saat ini hidup dalam kemiskinan.
Karenanya Datu Albi menerima dengan senang hati ketika diserahi koin 0.5 dinar dan 3.5 dirham dari Pak Abdarahman dan Pak Zaim, sebagai bentuk solidaritas dan dukungan untuk rakyat Sulu. Setidaknya secara kongkrit mereka dapat mengenali kembali mata uang emas dan perak, yang dulu juga berlaku di Sulu, yang kini telah dilupakan, berganti dengan uang kertas peso. Kepadanya dijelaskan pula perkembangan penerapan dinar dan dirham di Indonesia, sebagai model bagi Bangsa Sug, bila kelak mulai menerapkannya.
Semoga kaum Muslim Indonesia yang memperhatikan dan mendukung perjuangan Bangsa Sug semakin banyak. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan kemudahan bagi Bangsa Sug untuk menegakkan kembali daulah Kesultanan Sulu. Amin.
(001)Dibaca : 1551 kali


lainnya
- Sultan Sepuh XIV Otorisasi Dinar Dirham
- Berkebun Emas Banyak Makan Korban
- Inilah Dirham dan Fulus Baru WIM
- Lebih dari 600 Mustahik Terima Dirham
- Pelajaran Dinar Dirham Majelis Muslimah Surabaya
Index kategori : Berita