NILAI TUKAR DINAR DIRHAM
24-07-2014 , Kamis Pagi

DINAR EMAS
Nisfu (1/2) Dinar - Rp. 0,-
Dinar - Rp. 0,-
Dinarayn - Rp. 0,-

DIRHAM PERAK
Daniq (1/6) Dirham - Rp. 0,-
Nisfu (1/2) Dirham - Rp. 0,-
Dirham - Rp. 0,-
Dirhamayn - Rp. 0,-
Khamsa - Rp. 0,-
Kuala Lumpur, 11 Oktober 2012
Islam Sejati, Islam Non Konformis
Shaykh Umar Ibrahim Vadillo -
Umat Islam harus keluar dari penjara konformitas tatanan dan sistem kafir bernama kapitalisme.

Individu adalah sebuah konsep lama. Akan tetapi, individualisme adalah produk konseptual dari abad kedua puluh. Utamanya karena konsep tersebut mencerminkan satu hal yang hilang, layaknya upacara pemanggilan arwah yang menyedihkan dari sesuatu yang hilang. Makna sesungguhnya dari individualisme dibentuk oleh masyarakat yang dibentuk oleh satu orde mekanik yang kejam.

Jika individualisme kita artikan sebagai kepuasan diri sendiri, dalam lingkup pemikiran yang dangkal dan pribadi, maka kita saat ini berada dalam era keemasannya. Tetapi jika individualisme kita artikan pengambilalihan kepemilikan, atau bahkan pemaksaan, yang mengungkung satu kondisi, maka kita berada dalam satu era pembusukan pribadi yang tiada tara , yang kita kenal sebagai, konformisme (konformisme: Proses Penyesuaian Diri dengan Masyarakat dengan Cara Mengindahkan Kaidah dan Nilai-Nilai Moral dalam Masyarakat yang Bersangkutan).

Tidak pernah sebelumnya umat manusia berada dalam keseragaman perilaku dan tatanan sosial yang semena seperti yang kita alami saat ini: uang yang sama, ATM yang sama, hutang yang sama, sistem pajak yang sama, hukum yang sama, olahraga yang sama, bank yang sama, dan keseragaman ini berlanjut kepada hal lain seperti makanan, pakaian atau hiburan dan masih banyak lagi.



Penjelasan terbaik yang dapat menjabarkan ide yang seolah-olah saling bertolak belakang: 'individualisme konformis' adalah kata-kata terukur dari eksekutif periklanan, merekalah para pendeta dari individualisme baru ini. Tugas mereka adalah untuk mendorong konsumerisme dengan menghadirkan figur seorang pemberontak non-konformis, singkatnya, seorang individualis. Sangat jarang ide modern mengenai non-konformis yang diejawantahkan menjadi konformisme agresif dijabarkan dengan begitu baiknya. Kita hanya bisa menyayangkan tidak adanya Hadiah Nobel bagi industri periklanan atas keberhasilannya melakukan penyesatan.

Hal terpenting adalah bahwa individualitas baru ini hanya dibatasi pada tataran personal dan dangkal. Konsep 'non-konformis yang dangkal dan personal ini menghasilkan kondisi konfirmisme struktural yang tidak membeda-bedakan, sehingga mekanisme politik dan kekuatan ekonomi tidak terpengaruh olehnya.


Hasilnya, anda kini memiliki agama baru, sebuah agama yang diciptakan pada abad keduapuluh yang berazaskan struktu rasional dari konformisme. Dan sama halnya dengan 'neo individualisme', kondisi ini juga bersifat dangkal dan personal yang sejatinya merupakan cermin dari 'individualisme modern'; yang menjadi pasangan dialektika yang tugasnya melanggengkan ilusi perdebatan dalam masyarakat yang tidak memberikan tempat bagi debat atas isu-isu yang sesungguhnya.

Hasilnya adalah, agama modern juga menjadikan struktur rasional konformisme tidak membeda-bedakan, yang artinya, mekanisme politik serta kekuatan ekonomi tidak terpengaruh olehnya. Melihat hal ini, maka kini kita dapat memahami apa yang dimaksud oleh Marx dengan kalimat terkenalnya: 'Agama adalah candu bagi masyarakat', di mana dengan semangat yang sama, seseorang dapat berkata bahwa: 'individualisme adalah candu bagi masyarakat'. Oleh karenanya, kerumitan di mana kedua kalimat yang seolah-olah bertolak belakang ini sebenarnya adalah sama, sehingga dapat mengungkap alasan dasar dari apa yang kami jelaskan kepada anda; Bahwa selama seseorang mendapati dirinya disibukkan dalam alam pribadi yang sekaligus dangkal, maka dapat dipastikan orang tersebut tetap diperbudak oleh konformisme.



Sekarang, Islam. Islam dalam bentuknya yang paling murni bersumber di Madinah, hadir dengan teguh tidak dapat dikategorikan ke dalam tataran dangkal dan wilayah pribadi, tetapi dengan tegas menerapkan ajaran kebijaksanaan dan otoritas dalam mengatasi isu-isu sosial yang mendasar: tidak ada pajak kecuali zakat, tidak ada riba; pemerintah tanpa pajak, perdagangan tanpa riba; tidak negara, tidak ada bank. Maknanya adalah; bahwa bank sentral itu haram, undang undang yang meneguhkan keberadaan mereka (bank sentral) adalah haram, uang kertas adalah penipuan, riba adalah haram, bank itu haram, bank Islam tiga kali lipat keharamannya, dan apa yang bisa disarikan dari penegasan ini adalah: kaum ulama kita telah menjadi pendeta bagi agama konformasi puritan yang mengabdi kepada negara dan perbankan.

Mereka telah jatuh dalam perangkap wilayah pribadi yang dangkal, sehingga merka terobsesi dengan urusan perilaku sepele - biasanya yang terkait dengan urusan seksualitas dan terutama yang terkait dengan urusan perempuan, secara spesifik: urusan busana perempuan- Mereka berpendapat bahwa mereka memberikan jawaban terhadap individualisme modern yang telah menjadikan liberalisme seksual sebagai inti dari individualitas modern. Jadi para pendeta agama ini mengambil posisi melawan dan berseberangan dengan para pendeta iklan yang telah memvisualisasikan wanita setengah telanjang (begitu mereka melihatnya) di berbagai poster iklan dan dunia fashion. Kenyataannya adalah; bahwa kedua jenis pendeta ini secara diam-diam mempromosikan konformitas perbudakan pajak dan riba.

Pernahkah Anda mendengar ustadz Anda atau imam anda mengatakan bahwa Bank Sentral itu haram? Atau uang kertas adalah penipuan? Atau pajak penghasilan itu haram? Tentu tidak. Apakah Anda melihat eksekutif periklanan menjual celana jeans dengan menggunakan visualisasi orang sedang membakar dolar, atau menolak pemungut pajak? Tentu tidak.



Inilah yang diusung oleh Dinar Emas dan Dirham Perak: individualis sejati, non-konformis sejati, Islam sejati. Sekurang-kurangnya inilah yang menjadi niatan saya dengan mendirikan World Islamic Mint beserta seluruh koin yang sudah dicetaknya. Pendeta puritan tidak bisa mewakili Islam, karena sesungguhnya mereka mewakili konformisme. Kami adalah orang orang yang mengikuti 'amal Ahli Madinah. Amal nyata adalah bukti kita. Allah adalah Penolong kita, kita hanya takut kepadaNya, dan tiada hal lain yang lebih penting. Kita mencintaiNya, dan tiada hal lain yang lebih penting.

Dan Kemenangan adalah milikNya

Dibaca : 2092 kali


Bookmark and Share

lainnya
Index kategori : Artikel
Facebook   Twitter   Yahoo Group   You Tube   Baitul Mal Nusantara
© WAKALA INDUK NUSANTARA                                                                                                                        DISCLAIMER   SITEMAP   SITE INFO