Mengenal Lebih Dekat Shaykh Dr. Abdalqadir As-Sufi
-
Kembalinya dirham perak dan dinar emas, serta tatanan muamalat, adalah berkah dari ajaran Shaykh Dr Abdalqadir as-Sufi. Berikut biografi ringkasnya.
Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi al-Murabit, semula bernama Ian Dallas, lahir di Ayr, Skotlandia, 1930. Ia memeluk Islam awal enam puluhan di Mesjid Qarawiyyin, Fez, Maroko. Sejak itu, beliau memrakarsai pengembangan komunitas-komunitas muslim di jantung peradaban barat di Eropa, mendidik mereka tentang Dien dan mendorong kaum lelaki maupun perempuan mereka untuk membina karakter, mengeratkan silaturahmi di antara komunitas-komunitas tersebut guna mengemban tugas transformasi Islam. Keberhasilan fenomenal jerih payahnya terbukti gamblang dengan semakin meningkatnya jumlah kaum lelaki maupun perempuan di Spanyol, Inggris, Denmark, Italia dan orang-orang Eropa lain yang, dalam tempo tiga dasawarsa terakhir, memeluk Islam.
Pengalaman pribadi Shaykh Abdalqadir dalam realitas spiritual yang mendalam dan intens yang melekat pada ajaran Islam terbuka berkat perjumpaannya dengan Mursyid besar Shaykh Muhammad ibn al-Habib dari Meknes. Sebelum mencapai tahap ini, dia telah, dengan kesadaran penuh, terlibat dalam pencarian akan makna dan pengetahuan sejati. Dia menelaah tuntas gagasan beberapa tokoh besar dari lingkungan peradaban barat yang mengilhaminya semasa muda dan dalam artian tertentu telah memandunya sampai tahap ini.. Dari Baudelaire hingga Nietzsche berlanjut pada Wagner, Jung, Goethe dan Heidegger, intelektualitasnya yang istimewa bangkit dan membuat kemampuan tersebut dikenal melalui karya-karyanya sendiri yang mencakup naskah drama, buku-buku dan ratusan artikel.
Bakda perjumpaan bersejarah dengan ulama besar dan guru agung Shaykh Muhammad ibn al-Habib, yang berlangsung di Maroko, pergeseran besar mulai bergulir di dalam kehidupan dan kiprahnya. Kian hari kian mantap dirinya sebagai seorang guru. Dan senyampang dia dikenal baik sebagai orang yang senantiasa mudah bergaul, arena pribadinya yang sangat berharga dan bertambah luas saat ini dibagi-bagikan kepada sahabat-sahabat lain yang berkontak dengannya, yang sama-sama mengingini "jalan" ini.
Selanjutnya, lingkaran yang terdiri atas para kawula muda, baik pria maupun wanita, mendapati pada Syaikh Abdalqadir kualitas dan peran sebagai guru yang jarang ditemukan. Berangkat dari titik ini, bermula dari novel yang masih popular, The Book of Strangers (Pantheon Book, 1972) tulisan-tulisan maupun kuliah-kuliahnya menjangkau dimensi-dimensi yang lebih luas. Beberapa bukunya yang menjadi bagian kurun ini adalah The Way of Muhammad, Quranic Tawhid, Indications from Signs, Jihad - A Ground Plan dan A Letter to An African Muslim. Daftar buku ini dapat diperpanjang dengan The Hundred Steps (yang diakui di kalangan sufi sebagai satu karya tulis kontemporer terbaik tentang tasawuf), Kufr - An Islamic Critique, Root Islamic Education, The Sign of The Sword, For The Coming Man dan The Return of The Khalifate. Juga Technique of the Coup D'Bank, dan Sultaniyya.
Lantas dengan nama Ian Dallas, terbit bukunya dengan judul The Time of the Bedouin (2007). Triloginya terbit (2008) dengan judul-judul The Book of Tawhid, The Book of Hubb dan The Book of Amal. Bukunya yang paling mutakhir (2009) adalah The Muslim Prince
Karya-karya untuk Umat
Shaykh Abdalqadir menekankan pentingnya kembali kepada hal-hal mendasar. Dia menyeru manusia untuk kembali kepada sumber dan memurnikan basis Dien sebagaimana berlaku pada 'amal Madinah, guna mendapatkan sumber dan basis dari sumber pertama. Hal ini dilaksanakan dengan ketulusan dan kesederhanaan dan dia melakukannya berdasarkan pada fiqih Imam Malik, Imam Dar al-Hijra dan Imam 'Amal Ahl al-Madina. Ini dengan gamblang terlihat pada bukunya Root Islamic Education.
Shaykh Abdalqadir berhasil mengkordinasikan sebuah tim penerjemah dan secara pribadi menyelia, antara lain, penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa Inggris dan Spanyol (inilah pertama kali yang dilakukan oleh kaum muslimin yang berbahasa ibu bahasa-bahasa tersebut) dan Al-Muwatta susunan Imam Malik ke dalam bahasa Inggris, juga Ash-Shifa dan Qawa'id al-Islam - keduanya berasal dari karya klasik terkenal ulama Andalusia, Qadi 'Iyad; di samping buku-buku klasik lain tentang Islam.
Salah satu prestasi yang paling gemilang dari gerakan Murabitun ialah penerbitan Al Quran dengan terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Haji Abdalhaqq dan Aisha Bewley. Karya yang berjudul Noble Quran-A New Rendering of its Meaning merupakan sebuah karya yang muncul dari pergulatan terus-menerus selama lebih dari dua dasawarsa dengan Quran sebagai panduan hidup. Pergumulan selama itu membuahkan cara ungkap terbaik makna ayat-ayat dalam bahasa Inggris. Proyek penerjemahan ini berlangsung berkat dorongan Shaykh Abdalqadir pada 1975, dan yang lebih penting tanpa bimbingan dan arahan pantang putus darinya, ditambah dorongan semangat dan pengingatan sekali-sekali, buah karya ini pasti belum akan matang dan siap dipetik buahnya. Hari ini inilah terjemahan terbaik dalam bahasa Inggris atas Al Quranul Karim.
Prakarsa Shaykh Abdalqadir atas naskah klasik Islam menghasilkan sebuah koleksi buku-buku yang menurut klasifikasi Madinah Press tergolong dalam Pustaka Klasik Islam. Ini merupakan sumbangsih yang sangat penting terhadap karya-karya besar klasik yang diakui, sebagian besar di antaranya baru muncul pertama kali dalam bahasa-bahasa Eropa. Pustaka Islam Klasik sungguh-sungguh merupakan koleksi naskah-naskah asli, beberapa di antaranya masih dalam tulisan tangan, yang mencakup seluruh tema-tema sentral kajian Islam: kajian-kajian hukum, komentar atas Al Qur'an, sirah sang Nabi SAW dan sufisme. Jadi merupakan sebuah pembabaran lengkap atas ajaran-ajaran terpenting tentang Islam. Karya Shaykh Abdalqadir tidak diragui sangat memesona dan secara politik bermakna. Buah dari karya-karya tersebut ialah terbentuknya komunitas-komunitas fungsional muslim di beberapa kota Eropa - yang juga tumbuh di berbagai kota di Afrika dan Asia. Yang terbesar di antaranya berada di kota lama yang cantik Granada, Andalusia, Spanyol yang menandai tidak hanya revolusi kembali menuju Islam pada tanah yang sebelumnya subur tetapi yang secara mengagumkan muncul dari perjumpaan intelektual Timur dan Barat, yang tiba di sana sebagai sebuah fenomena autentik yang betul-betul berwarna Eropa.
Sambil menekankan perlunya memurnikan kembali tradisi awal Madinah, dia juga menyeru orang kepada Islam dengan cara yang jernih dan memikat, yang mencerahkan jalan menuju di tempat kaum muslim kehilangan Dien sebagai cara menata pemerintahan dan, yang terpenting, cara untuk memurnikannya. Hal ini terlihat nyata pada karya-karya tulisnya
Kepedulian global Shaykh Abdalqadir mendorongnya untuk menulis For The Coming Man. Di dalamnya dia mengatakan bahwa 'Bukan lagi titik pandang ekstrim, bahwa umat manusia dan planet itu sendiri saat ini dalam bahaya kepunahan sebagai akibat ulah spesies manusia'. Hanya saja untuk berpikir secara jernih tentang persoalan-persoalan amat penting ini, dia mengatakan bahwa sangat penting bagi kita untuk membersihkan benak kita dari jejaring pengondisian yang mengendalikan pandangan kesejarahan kita dan menghindari cara-cara berargumen yang akan membawa pada jalan buntu yang berbahaya. Dia menganjurkan seperti dalam kuliahnya tentang penulis kontemporer Ernst Junger, bahwa kita harus mencoba menangkap dinamika sebuah cara baru berpikir dan menilai, begitu materialisme dialektik dan determinisme psikologi tercampak. Dia memperlihatkan bahwa selama empat ratus tahun terakhir berlangsung transisi dari satu sistem politik menuju sistem berikutnya. Kita telah beranjak dari monarki, melalui demokrasi, menuju usurokrasi (hegemoni perbankan, riba).
Di dalam milieu inilah kita dapat menempatkan formasi entitas Eropa sebagai indikasi akan awal mula strukturisasi adinegara (super-state) dunia, tetapi yang lebih penting di balik itu semua, awal mula sistem keuangan dunia, yang bergerak dengan logika yang tidak terbendung menuju satu mata uang dunia dan sebuah Negara Dunia. Analisis semacam itu secara memadai menjelaskan petaka politik dan ekonomi belakangan ini yang di dalamnya gembong-gembong riba seperti George Soros, IMF dan Bank Dunia merupakan beberapa biang kerok utama. Akibatnya, Indonesia misalnya masih terbakar dalam arti yang sessungguhnya
Dalam hal ini Shaykh Abdalqadir telah mengungkapkan dukungannya pada Dr Mahathir Mohammad dalam mengritik sistem kapitalisme riba/keuangan. Shaykh Abdalqadir dalam artikelnya, The Year 1997 in Review, menyebutkan bahwa Malaysia saat itu merupakan satu-satunya negara di kalangan umat yang dengan lantang membela isyu-isyu Islam. Dia katakan Dr Mahathir merupakan tokoh terhormat di mana saja dan bertindak atas prakarsanya sendiri, sesuatu yang tidak terdengar di dunia Arab.
Shaykh Abdalqadir senantiasa menekankan bahwa pembentukan kedaulatan umat Islam bergantung pada penolakan sistem-sistem dan lembaga-lembaga keuangan ribawi saat ini. Berikutnya Mata Uang Islam, Dinar Emas dan Dirham Perak, harus diberlakukan guna melawan dominasi mata uang dolar yang dalam realitasnya tidak lagi didukung oleh emas ataupun perak sejak 1971. Shaykh Abdalqadir bersama murid-muridnya saat ini berjuang memberlakukan dinar emas, dirham perak, memromosikan jejaring perdagangan Islam, pengembalian pasar-pasar, gilda-gilda Islam dan memulihkan pilar zakat secara benar. Pencetakan Mata Uang Islam oleh seorang Amir muslim dan penarikan, dengan otoritas, zakat di dalamnya, merupakan rantai proses yang akan menjadi landasan kembalinya kekhalifahan Islam. Hal ini selalu diulang-ulangnya pada pelbagai kesempatan
Perhatian pada Eropa dan Islam
Ian Dallas lulus dari the Royal Academy of Dramatic Arts, London University dan mengawali karir sebagai penulis drama. Selaku penulis kontrak untuk TV BBC dia bertanggung jawab atas sejumlah besar sandiwara dan drama asli. Pengenalannya akan kejiwaan orang Eropa yang tengah bergerak menuju Islam tersaji dengan baik pada novelnya, Ten Symphonies of Gorka Konig (Keegan and Paul International, 1989). Menjelang akhir 1980-an dia melibatan diri pada kajian Wagner's Ring yang kemudian mengristal dalam bukunya, The New Wagnerian (Freiburg Books, Granada, 1990). Pada 1992 dia meluncurkan buku Oedipus and Dionysus guna memantapkan tempat dirinya sebagai seseorang yang secara mumpuni membaca pola pikir Eropa dan menempatkan Islam sebagai tujuan mereka.
Sebagai orang Eropa mereka memiliki budaya dan tradisi sendiri. Sebuah upaya besar-besaran telah dilakukan oleh Shaykh Abdalqadir guna menjelajahi masa lalu dan menyaring untuk orang Eropan apa yang berharga dan menolak yang tidak bisa diterima. Proses ini membawa kaum muslim Eropa memahami dengan lebih baik sejarah mereka sendiri dengan cara yang sebelumnya tidak mereka pahami. Dia membantu menggambarkan sebuah tujuan bagi bangsa Eropa terhadap Islam, dan karakter-karakter luhur budaya mereka sendiri yang merindui Dien Islam. Taruhlah Goethe yang, menurut Shaykh Abdalqadir, meninggal sebagai seorang muslim. Yang lain-lain meliputi Rilke, atau Nietzsche dengan cara dia mengungkap perang melawan Kristen sampai akhir, dan perdamaian dan persahabatannya dengan Islam. Atau karya Thomas Carlyle dan pemahamannya atas Rasul, SAW, dan kedekatannya dengan persoalan ini. Atau dalam karya lain, pendobrakan oleh Martin Heidegger dengan mengungkap dan mendekonstruksi filsafat barat dan kekakuan pemikiran a la Kant, dan pembukaan pintu pemahaman menuju tawhid dengan cara lain.
Segenap aspek budaya Eropa ini ditemukan kembali oleh Shaykh Abdalqadir hampir seorang diri. Penemuan kembali ini membuka jalan bagi mereka untuk menjadi orang Islam sekaligus orang Eropa. Hal ini membuat mereka merasa bahwa orang-orang Eropa sendirilah yang harus menegakkan Islam di sana. Karena alasan itulah dakwah mereka paling berjaya di Eropa Barat lantaran mereka bisa berbicara dengan bahasa yang dapat mereka pahami. Mereka sanggup menalikan kaum nonmuslim Eropa dengan perasaan bahwa mereka adalah manusia yang telah Allah siapkan untuk Dien Islam sebab mereka adalah bagian dari masyarakat yang sama.
Berasal dari lingkungan masyarakat barat, Shaykh Abdalqadir menyadari bahwa pandangan ortodoks barat dalam bidang ilmiah, teknik dan sosial bersifat dominan. Hal ini didasarkan pada seperangkat keyakinan dan hukum pra-saintifik yang -dalam pandangan kami kaum muslim - jelas bercacat; acap bersifat atheistik, reduktionis, mekanistik dan abstrak. Sebagai orang muslim, kita tidak sendiri dalam memikirkan hal ini. Rekaman sejarah Eropa sarat dengan konflik-konflik pandangan dari para saintis dan filosof. Shaykh Abdalqadir telah melakukan kajian dalam beberapa kuliah, wacana dan buku-bukunya bahwa terdapat seutas benang merah aliran atau pemikiran yang sepanjang waktu mendukung apa yang kita namai pandangan eksistensi 'berbasis tawhid'.
Karya-karya Goethe, Hahneman, Bechamp, Nietzsche, Heidegger, Heisenberg, Borr dan banyak yang lain, menunjukkan tantangan-tantangan dan gelagat menuju jalan keluar dari jalan buntu kita saat ini. Dalam garis pemikiran ini, kunci-kunci pemicu gerakan pencerahan (renaissance) sains Islam bisa dijumpai. Dalam hal ini, Shaykh Abdalqadir memrakarsai, 1995, The Highland Biomedical Research Foundation - sebuah lembaga derma Skotlandia. Melalui yayasan ini dia mengumpulkan satu tim saintis muslim Eropa, para dokter, psikolog dan para kademisi yang melakukan telaah ulang atas fundamental perilaku saintifik dalam sebuah kerangka atau gestell Islam sehingga memungkinkan sebuah lintasan gerak pemikiran dan untuk menciptakan sebuah etos autentik Islam yang di dalamnya pengetahuan yang bermanfaat bisa berakar, bertumbuh kemudian berbuah.
Dengan penuh empati dapat dikatakan bahwa Shaykh Abdalqadir telah secara lengkap menghapus konsep keliru bahwa 'Islam di Eropa' sekadar agama para imigran minoritas yang tinggal di negara-negara tersebut. Secara meyakinkan karya-karyanya menunjukkan bahwa Islam merupakan satu pilihan yang tersedia bagi individu-individu berpikir di kalangan masyarakat Barat.
Shaykh Abdalqadir mendirikan Murabitun World Wide Movement bagi mereka yang berbagi aspirasi penegakan Islam di Eropa dan mengembalikan Islam di negara-negara muslim yang sudah ada. Murabitun berarti peribat dan ribat adalah benteng pertahanan garis depan antara Dar al-Islam dengan Dar al-Harb. Murabitun juga merupakan nama gerakan Islam yang pernah menghidupkan kembali Andalusia dan membawanya pada puncak keagungan, yang terwujud di Spanyol hanya beberapa generasi setelah orang-orang seperti ibn Rushd, Shaykh al-Akbar ibn al-'Arabi, Qadi Abu Bakr ibn Arabi dan Qadi 'Iyad. Orang-orang paling terkemuka Andalusia lahir dari sumber mata air kekuatan ini dan pengamalan ulang Dien yang bermula di Afrika Utara lalu menyubur di Eropa.
Murabitun, karena itu, mewakili Islam terbaik di Eropa, Islam tradisional Eropa masa silam. Pengibaran nama ini juga merupakan cara menyerukan ulang Islam yang dulu hidup di sana. Ini juga merupakan satu sikap terhadap Dien, merasai diri kita sendiri berada di garis depan, siap untuk berjuang, berperang, meninggalkan kota dan segala kenikmatannnya dan menanggung beban berada di garis depan dan siap untuk berkorban segalanya demi Dien Islam. Semua pengertian itu tercakup dalam kata Murabitun. Selama bertahun-tahun di Spanyol, dia membangun komunitas di Granada, Sevilla, Madrid, Galicia, Basque dan Barcelona. Dia pun membantu membangun komunitas-komunitas Islam di Jerman, Inggris, Itali, Denmark. Di luar Eropa, terdapat komunitas-komunitas yang sangat aktif di antaranya di Afrika Selatan, Nigeria, Meksiko, Amerika Serikat, Australia, Muang Thai, Malaysia, dan Indonesia,.
Pada 2005 seorang dermawan lain dari Malaysia menyumbangkan sebuah masjid, Jumu'a Mosque of Cape Town, di jantung kota Cape Town, Afrika Selatan, tempat Shaykh Abdalqadir kini bermukim, dan membangun komunitas di sana, sejak 2001. Di Cape Town beliau juga memprakarsai berdirinya Dallas College. Pada 2010 ini Shaykh Abdalqadir as-Sufi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-80. (Anonimus)
Dibaca : 879 kali


lainnya